A Movie that makes me really sad is... Turtles Can Fly.

lalala... the kid is happy. NOT.

It takes a total jerk to create a movie like this. I mean how could you... argh.

Seriously guys. Turtles Can Fly is a very-very sad movie. Dan bukan sedih terharu yang bikin kita senyum-senyum dan mata tiba-tiba panas ala grand ending of some Julia Roberts movies (aye aye) atau moment of unyuness Gump Senior dengan Gump Junior.. The sadness in this movie is just plain black-bitter-heart-crushing-nail-pounding sad.

Oh the kids will be OK. No they wont. The baby will be safe. No he wont. They will be happy ever after. Nope. See, everything just wrong. Kaya nonton pertama kali video klip Untitled#1 nya Sigur Ros. Tapi running timenya bukan cuma 6 menit.

Congrats, the Director of Turtles Can Fly. I hate you.


The best moment:
Glosoli-like moment dari si anak perempuan. She's flying!! Well, apparently not.

Special mentions:
Mufassa scene in The Lion King, the first ten minutes of UP, Grafeyard of Fireflies.

A movie that makes me really happy is "Heima"

Komitmen untuk menyelesaikan challenge 30 movies susah sekali rupanya. Ini postingan ketiga dan untungnya, such an easy pick.




Ah, Heima.

Akan banyak kata-kata superlative yang terkesan berlebihan apabila saya diminta untuk menuliskan review pengalaman yang saya terima paska menonton film ini. Akan tetapi hari itu di Goethe Institute, ditemani pacar, adiknya pacar, bapaknya pacar, teman baik, pacarnya teman baik - well his ex, dan rombongan teman-teman kampus.. kami semua tersenyum dan bertepuk tangan dengan meriah ketika film selesai.

No rocket science, sebetulnya. If you mix konser Sigur Ros + lansekap Islandia + penyuntingan audio visual yang super keren (+ accoustic auditorium Goethe yang maha dahsyat - the best in town, IMHO) = great, great experience.

Buy, steal, or borrow the movie. Totally worth it.



The best moments:
a) Opening act of Glosoli
b) Accoustic performance of Untitled #1

Special mentions: American Pie Series.

10.30

10.30 malam sunyi di dalam. ulat bertanya kepada kepompong yang mengubahnya buruk rupa dari kupu yang terlanjur lahir jelita.

10.30 malam lengket akibat keringat siang yang menempel pada tubuh-tubuh yang terus bergerak tanpa mandi, lupa tertidur. adalah istana tua yang tertegun menatap pembangunan yang timbul-tenggelam tak beraturan seperti mahakarya rayap tanah menunggu tiba banjir bandang meratakan tanah tunduk kepada asal. pengemis tanpa lengan berkaki kudis berperut perih menatap mangkok kosong tiada terberi manusia-manusia durhaka yang lalu lalang tanpa berhenti untuk sekedar menatap wajah tuhan.

10.30 malam di pedesaan dingin kabut mulai turun menggerayangi permukaan tubuh danau kelam. pada hadapan bulan dan awan melayang rendah ia berbisik kata cinta dan rayuan kepada kekasih yang menunggu terbaring lamat menelanjangi setiap riak, mencumbu tiap percikan. dari kakinya di pegunungan, kepalanya mencium basah rona wewangian dari tetesan dingin yang terasa bagai tangisan surga detakan nikmat sementara - menutup mata menjilati kepasrahan sedia. malam masih lama, siang belum tentu bakal tiba.

10.30 malam rasa rindu datang bagai kuku yang menggaruk dada meraba tulang rusuk dan daging keras di antara; tiada berhenti tanpa menoreh sayatan di jantung untuk mendarahi ritme perpisahan. waktu pergi akan datang setiap hari namun malam ini adalah berbeda. gemetar terasa hingga ke gigi yang menggeletik cemas tanpa akhir dari penantian. ketidakpastian adalah serdadu maya pembawa senapan-senapan jarum beracun menunggu saat lengah untuk menembakkan kesedihan tiada tara pada mata yang menunggu sendu datang.

10.30 malam ulat bertanya kepada kepompong yang mengubahnya buruk rupa dari kupu yang terlanjur lahir jelita.

Nessun Dorma

Maka; adalah aku di malam sunyi
Para pandir tertidur sudah
Tapi bangunlah para pejuang
Kar'na kejayaan akan datang
Bukan dari mimpi yang ternasib maya
Sebentar tiba fajar menj'lang

Dan akan kubawa kau, puteri
Pada kisahmu yang ditulis Puccini,
Tiga-enam lembar dan belum lagi selesai

Tadi siang sudah kuletakkan mati
Pada tiga tanya yang kau hempas
Di tiap jawab yang kulepas
Pedang melonggar senti demi senti

Lalu apakah yang akan kau bilang
Kar'na kita hanya bagian dari opera
Yang bertindakan demi tepukan tangan
Janda berpelur muka

Maka; kuteriakkan kembali :
Tidak ada yang tidur, wahai!
Lihatlah ketika kunyatakan kebenaran di mulut sang puteri
Pergilah malam, dan terbitlah bintang
Ketika fajar datang
Di panggung akan terbit kemenangan

Kar'na sesungguhnya kita semua
Pemain pada suatu opera sahaja
Yang akan mati
Pada akhir ini stanza
--


(Credit to the great Luciano Pavarotti and his heritage Nessun Dorma. RIP.)