10:55 AM
Posted by
sonn
... janjiku kita akan sampai ke tempat tanah jingga
dimana debu emas berubah jadi hujan
kau sebut beberapa tujuan;
istana-istana raja jawa, pula hutan kelam tak berpenjaga
kupacu pedati dan menyumpah
mentari akan lekas ditelan mega
lalu kau bercerita tentang bintang-bintang pengelana
kala mereka meluncur satu-satu
mencoba mencium bumi
tapi musnah menembus udara
10:21 AM
Posted by
sonn
bilamana ; waktu dan cahaya dan ruang dan norma
- dan hubungan manusia
terserak.
antar tembok antar pembatas
------------------------------
bilamana ; tiba simpangan tanpa penunjuk jalan
maka mati kau kutembak biru
2:36 PM
Posted by
sonn
Tolong dipahami bahwa ini bukan review tentang musik. Jadi untuk anda penggemar trio boyband ganteng dengan kapasitas vokal yang aduhai(?) tersebut bisa melewatkan saja tulisan singkat ini.
Langsung saja. Saya yakin, tidak dalam sejuta tahun Indonesia mampu menghasilkan sebuah mahakarya seperti Ran; tidak selama permodalan sinema masih dikuasai oleh Bapak-bapak keturunan India itu, yang menganggap kriteria untuk film bagus adalah:
a) film horor
b) film sex sok lucu
c) film agamis (baca: Islam)
d) film romantis abg
e) film yang menampilkan pemeran utama nan cantik atau tampan, ditemani komedian dengan tampang hancur sebagai pemeran pembantu (sejujurnya, mereka kadang memang benar-benar berperan sebagai pembantu); yang kesemuanya tidak bisa akting sama sekali
f) film yang dipimpin sutradara tanpa visi, atau sutradara idealis tapi termakan pasar
g) film jiplakan yang kampung (sebagai catatan, Ran adalah interpretasi atas King Lear karya Shakespeare, tapi berhasil diolah oleh Akira Kurosawa dengan hampir tanpa cela)
h) sekuel pertama film horor (a)
i) sekuel kedua film horor (a)
j) campuran atas dua kriteria diatas atau lebih
Sedihnya, seperti kebebalan televisi swasta yang mengatakan bahwa kualitas tayangan televisi diukur dengan rating, yang terjadi di ruangan bioskop juga sama: adalah jumlah pembeli tiket dan total rupiah yang menjadi tolak ukur kualitas film.
Padahal kita semua sebetulnya tahu, bahwa kualitas berbeda dengan kuantitas.
Itulah sebabnya, selesai menonton Ran, hati saya hancur.
9:16 PM
Posted by
sonn
aku ada di kursi depan ketika kami melaju kala subuh dari jakarta, setelah pertandingan sepakbola paling besar tahun ini berakhir. tahukah kau bahwa kehidupan di ibukota dimulai ketika tukang sapu jalan mulai bekerja? dengan pakaian oranye mereka berlompatan dari atas truk di dalam gelap untuk membersihkan jalanan yang esok pasti akan kotor lagi.
aku ada di kursi depan ketika matahari mengintip malu-malu dari sela pebukitan cikampek, membawa garis biru, ungu, merah, jingga, dan kuning; pembiasan cahaya yang berbaur di sela-sela gelapnya awan. ah, perbatasan malam di perbatasan kota. jalan tol sudah terlewat, selanjutnya kami akan ikut aliran kendaraan di arteri utama pulau jawa: jalur pantai utara.
aku ada di kursi depan sambil mengunyah roti cokelat, ransum yang sudah disiapkan chalid pada malam sebelum kami berangkat. tak terasa matahari sudah tepat di atas kepala; ia benderang dengan kuasa, seraya menertawakan keringat dan memerahnya kulit kami, juga kepada aspal yang berteriak terpanggang. terasa begitu lama hingga dia akhirnya terbenam, setelah beratus-ratus tanda jalanan rusak dan batang berkembang (motto kota yang membuatku terbahak).
aku ada di kursi depan, malam sudah larut ketika kami memasuki tuban. adalah laut, pantai, dan kapal nelayan berupa siluet menantang bulan. di pantura kala malam, kami melawan bus dan truk raksasa yang meliuk liar, mereka hanya mengurangi kecepatan kala tanjakan. disini logika mati; menyisa nyali.
aku ada di kursi depan kala haqi menepuk punggungku dan berkata, 'saatnya gantian'. waktu yang tepat, karena kantuk sudah menyerang hebat, ia menampilkan bayangan-bayangan palsu yang membahayakan. di kursi depan, aku adalah pengawas jalan, teman bicara dan penunjuk arah pengendara. apa jadinya jika aku meminta salip kiri padahal disana tepi jurang menganga? pukul satu pagi, aku pindah ke belakang dan seketika itu langsung terlelap.
aku terbangun saat mobil menderu memasuki jember. kuusap mata, karena pemandangan jalanan yang tertutup kabut tipis, diterangi sinar matahari pagi yang menembus pucuk pucuk daun jati, alang-alang tinggi, dan pepohonan tebu serasa tidak nyata. apa ini semacam halusinasi lagi, ataukah aku masih di alam mimpi? chalid dan haqi terbahak keras di kursi depan. 'kau tidur seperti babi, le! nyenyak kali!' aku tersenyum dan membuka jendela, membiarkan udara dan embun pagi pegunungan meniupkan nyawa kepada muka.
(bersambung)