sunflight

"jangan bangunkan aku"
"hingga matahari berdiri?"
"hingga matahari terbenam kembali"
"tapi hari akan terlewat begitu saja"
"tidak, ada hari di dalam mimpi"


*akibat mendengarkan daniel sahuleka - sunflight terus-menerus*

di angkasa

... janjiku kita akan sampai ke tempat tanah jingga
dimana debu emas berubah jadi hujan
kau sebut beberapa tujuan;
istana-istana raja jawa, pula hutan kelam tak berpenjaga

kupacu pedati dan menyumpah
mentari akan lekas ditelan mega

lalu kau bercerita tentang bintang-bintang pengelana
kala mereka meluncur satu-satu
mencoba mencium bumi
tapi musnah menembus udara

katamati

bilamana ; waktu dan cahaya dan ruang dan norma
- dan hubungan manusia

terserak.

antar tembok antar pembatas

------------------------------

bilamana ; tiba simpangan tanpa penunjuk jalan
maka mati kau kutembak biru

Ran (1985)

Tolong dipahami bahwa ini bukan review tentang musik. Jadi untuk anda penggemar trio boyband ganteng dengan kapasitas vokal yang aduhai(?) tersebut bisa melewatkan saja tulisan singkat ini.

Langsung saja. Saya yakin, tidak dalam sejuta tahun Indonesia mampu menghasilkan sebuah mahakarya seperti Ran; tidak selama permodalan sinema masih dikuasai oleh Bapak-bapak keturunan India itu, yang menganggap kriteria untuk film bagus adalah:
a) film horor
b) film sex sok lucu
c) film agamis (baca: Islam)
d) film romantis abg
e) film yang menampilkan pemeran utama nan cantik atau tampan, ditemani komedian dengan tampang hancur sebagai pemeran pembantu (sejujurnya, mereka kadang memang benar-benar berperan sebagai pembantu); yang kesemuanya tidak bisa akting sama sekali
f) film yang dipimpin sutradara tanpa visi, atau sutradara idealis tapi termakan pasar
g) film jiplakan yang kampung (sebagai catatan, Ran adalah interpretasi atas King Lear karya Shakespeare, tapi berhasil diolah oleh Akira Kurosawa dengan hampir tanpa cela)
h) sekuel pertama film horor (a)
i) sekuel kedua film horor (a)
j) campuran atas dua kriteria diatas atau lebih

Sedihnya, seperti kebebalan televisi swasta yang mengatakan bahwa kualitas tayangan televisi diukur dengan rating, yang terjadi di ruangan bioskop juga sama: adalah jumlah pembeli tiket dan total rupiah yang menjadi tolak ukur kualitas film.

Padahal kita semua sebetulnya tahu, bahwa kualitas berbeda dengan kuantitas.

Itulah sebabnya, selesai menonton Ran, hati saya hancur.